TIDAK APA-APA OLEH APA-APA

Itulah ucapan terkenal dan populer dari ulama R.H. Hasan Mustofa. Menurut saya itulah bagian dari ngelmu tirakat, mendekatkan diri pada Tuhan. Kehendak-Mu yang terjadi, bukan kehendakku. Pasrah bongkokan pada Tuhan. Berkah dan malapetaka atas kehendak-Nya.
Tidak apa-apa oleh apa-apa, duka-nestapa atau senang bahagia dalam hidupku adalah kehendak Tuhan semata. Gagal atau berhasil, sakit atau sehat, tak punya uang atau bertumpuk rezeki, semuanya adalah kehendak-Nya. Saya hanya bisa menerima. Dalam tirakat, terdapat empat tingkatan hidup. Pertama, hidup berdasarkan perintah agama seratus persen. Kedua, meningkat menjadi hidup untuk Tuhan, yaitu jalan mendekat pada Tuhan dan meninggalkan segala yang keduniawian. Ketiga, tidak apa-apa oleh apa-apa, pasrah bongkokan pada Tuhan. Dan terakhir, hidup sepenuhnya dalam ketuhanan. Dengan sendirinya hidup menjauhi dosa-dosa.
Menurut hukum kesempurnaan Mancapat Kalimo Pancer ada 4 pasangan nafsu manusia : aluamah, amarah, supiah, mutmainah. Aluamah berupa nafsu jasmaniah yang terkenal sebagai molimo (5 ma, yaitu : Mangan-Minum (suka makan enak dan minuman keras), Maling (mencuri). Main (berjudi), dan Madon (nafsu seksual); kelimanya disebut Aluamah (nafsu kedagingan). Amarah atau nafsu rohaniah: sombong, iri hati, benci, dan khianat. Nafsu aluamah atau kedagingan hanya dapat diatasi dengan hidup dekat Tuhan (manunggaling kawulo Gusti), sedangkan nafsu kerohanian (sombong, iri hati, benci, dan khianat) dapat dihilangkan dengan kepatuhan pada perintah agama. Nafsu aluamah atau kedagingan dapat diatasi dengan Mutmainah, yaitu hidup suci dan murni dekat Tuhan, sedang nafsu kerohanian dapat diatasi dengan Supiah (mematuhi perintah agama).
Prinsip falsafah dasar Indonesia itu dualitas, segala sesuatu yang ada ini merupakan pasangan berbalikan. Pepatah Baduy menyatakan “panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung”. Panjang biarkan tetap panjang pendek biarkan tetap pendek. Adanya panjang itu karena adanya pendek dan adanya pendek itu karena adanya panjang. Adanya kanan karena adanya kiri, adanya atas karena adanya bawah. Tak ada bawah maka atas tak akan ada.
Itulah sebabnya ada cinta dan benci, senang dan sedih, gairah dan takut, kagum dan muak, dan kalau semua dualitas dilebur menjadi satu maka akan terdapat kedamaian hati, ketenangan jiwa. Tidak apa-apa oleh apa-apa. Apa-apa adalah segala pasangan dualitas. Tidak apa-apa berarti segala pertentangan dualitas itu saling meniadakan. Kebencian dilenyapkan oleh cinta, ketakutan dilenyapkan oleh semangat hidup.

Tidak apa-apa oleh apa-apa dipraktekkan oleh Raden Mas Sosrokartono, kakak laki-laki Raden Ajeng Kartini. Sosrokartono (1877-1952) putra Bupati Jepara pada zaman kolonial. Ia dikirim belajar ke Belanda oleh orang tuanya untuk menjadi dokter, tetapi ia pindah mengambil belajar bahasa sehingga menguasai 26 bahasa, yaitu 9 bahasa asing Timur dan 17 bahasa Barat. Pada perang dunia I (1914-1918) ia menjadi wartawan New York Herald dan New York Herald Tribune dan bekerja sebagai penerjemah di Liga bangsa-bangsa.
Sosrokartono menjelajah Eropa selama 27 tahun, bergaul di lingkungan elit Eropa. Pada suatu hari ia menyembuhkan seorang putri sahabatnya yang divonis tak dapat diobati oleh beberapa dokter. Bekalnya hanya doa. Sejak itu ia merasa terpanggil pulang ke tanah air untuk menolong orang-orang sakit yang mahal biaya pengobatannya.
Ia bermukim di Bandung dan menyembuhkan banyak orang sakit hanya dengan air putih di botol dan ditempeli kertas dengan huruf Alif (Allah). Dia sangat terkenal bukan saja di kalangan rakyat kecil tetapi juga di lingkungan kaum terpelajar pergerakan nasional, antara lain Bung Karno.
Sosrokartono meninggalkan segala kesempatan masa depannya untuk menyembuhkan sakit rakyat kecil. Intektual ahli bahasa ini akhirnya rela menjadi bukan apa-apa untuk menolong rakyat kecil dengan menyembuhkan sakit mereka.
Dalam khazanah cerita-cerita Si Kabayan di Sunda seringkali Kabayan rela menjadi apa-apa tanpa apa-apa. Salah satu cerita yang terkenal adalah “Si Kabayan mengaku kentut”. Kabayan menjadi murid seorang kyai. Kyai yang masih muda ini mau menikah. Kyai muda ini punya kelainan yang suka kentut tiba-tiba dan berturut-turut. Ia minta tolong pada Kabayan agar ketika menikah si Kabayan mau mengakui bahwa Kabayan lah yang kentut. Si Kabayan menyanggupi.
Ketika pernikahan kyainya tiba, Si Kabayan senantiasa ada di belakang kyainya. Ketika kyai menaiki tangga rumah ia kentut dan meloleh pada Kabayan sambil berkata: “Kabayan Jangan kentut”. Kabayan menjawab: “Iya Kyai maaf tak sengaja Kyai.” Ketika tiba di pintu rumah kyai kentut lagi, dia menegur Kabayan : “Kabayan jangan kentut melulu.” Tetapi ketika mau duduk di pelaminan, kentut kyai tidak tertahan lagi. Suara kentutnya begitu keras: Brot !, Epek !, Epek !, Epek ! Kabayan begitu mendengar suara kentut kyainya, langsung lari meninggalkan kyainya. Ia tak mau menanggung mengakui kentut yang begitu keras sehingga mungkin Kabayan mengakui dia yang kentut. Semua orang tahu kyai yang kentut.
Cerita ini mengisyaratkan bahwa dosa atau kesalahan orang lain tak mungkin ditanggung oleh orang yang tidak melakukannya.

Jakob Sumadjo