Jangan Merebut Wilayah Ilahi (Matius 21:33-43)


Selain sejumlah perumpamaan tentang ladang gandum, Penginjil Matius juga menampilkan perumpamaan tentang kebun anggur. Sekurang-kurangnya ada dua hal yang bakal terpikir para pendengar perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur versi Penginjil Matius. Pertama, pemilik dengan penuh perhatian membangun tempat pengelolaan kebun anggurnya. Oleh karena itulah ia sangat mengharapkan hasilnya. Akan tetapi, ia dikecewakan. Justru miliknya direbut. Kedua, merebut hak milik kebun anggur ini ditampilkan sebagai kejahatan atau kemalangan yang melampaui batas.


Unsur kebetulan

Sebenarnya penekanan perumpamaan ini bukanlah perlakuan buruk terhadap para utusan pemilik kebun. Yang disoroti sebagai kejahatan adalah upaya merebut kebun tadi. Dengan kata lain, perumpamaan itu bukan untuk menuduh para penggarap, bukan pula
untuk menuduh diri kita sendiri yang acapkali kurang peka akan isyarat Ilahi. Perumpamaan itu dimaksud untuk memurnikan hidup rohani dari unsur-unsur yang menjauhkannya dari kehadiran ilahi sendiri.

Dengan sudut pandang semacam itu kita tidak selalu perlu membaca perumpamaan Yesus kali ini sebagai alegori. Perumpamaan itu perlu juga didalami sebagai perumpamaan, sebagai pembicaraan yang mengajak orang mengamati diri dan bertanya apa yang dapat diperbuat dalam keadaan itu. Perumpamaan ini dapat sangat berguna untuk memahami hidup rohani atau hidup batin kita. Seperti dalam kehidupan pada umumnya, dalam hidup batin ada unsur ‘rencana-rencana’. Ada pula unsur ‘kebetulan’.

Seringkali rencana tidak terlaksana. Salah satu penyebab tidak terlaksananya rencana adalah datangnya kematian. Selain hidup seseorang, banyak hal lain terhenti akibat kematian. Pada titik ini seringkali kita bertanya-tanya. Misalnya, mengapa itu terjadi. Mengapa saat ini itu terjadi, saat rencana belum terlaksana. Dari situ kerap yang muncul adalah penyesalan dan kesedihan.

Akan tetapi, di balik itu sebenarnya sering yang terjadi adalah yang kebetulan yang bisa jadi lebih baik daripada yang diperhitungkan. Hidup batin diberikan kepada kita sebagai peluang supaya kita semakin menyadari sisi-sisi ilahi dalam hidup ini. Kondisi gagalnya rencana itu dapat menjadi peluang supaya kita membiarkan Allah memasuki kehidupan kita. Dengan membiarkan Allah memasuki kehidupan kita, kita disadarkan bahwa hidup ini bisa ditelateni dan dikembangkan. Akan tetapi, sekaligus hidup juga tidak dapat diatur secara ketat menurut agenda kita sendiri. Hidup dipercayakan untuk digarap, bukan untuk dimiliki atau bahkan diklaim sebagai milik.

Akan tetapi, dalam kehidupan ada kecenderungan untuk merebut wilayah tadi. Kita mendengar ada macam-macam ulah batin yang bertujuan menghimpun kekuatan-kekuatan luar biasa untuk memanipulasinya. Jika itu terjadi, ibaratnya penggarap yang dipercaya mengolah hidup batin mau merebut kekuatan-kekuatan batin tadi dari Ia yang memilikinya.

Oleh karena itu, warta sabda hari ini mengajak kepada kita untuk membiarkan campur tangan Ilahi memasuki wilayah kehidupan kita. Beberapa bagian dari hidup dapat kita rencanakan. Akan tetapi, sebagian lagi menjadi wilayah kekuatan Ilahi. Salah satunya adalah kematian. Jika itu terjadi, kita mendapat ajakan untuk menempatkannya sebagai kehendak Ilahi yang terjadi demi kebagian kita dan kehidupan kita.

Ada ungkapan dalam Bahasa Latin ‘Hodie mihi, cras tibi’. Artinya, ‘hari ini giliranku. Esok giliranmu’. Ungkapan ini sungguh benar. Esok itu dapat berarti tidak lama setelah kita pulang dari sini, besok, atau beberapa tahun lagi. Akan tetapi, itu sudah pasti. Kepastian itu mempersiapkan kita untuk menghadapi datangnya kematian dengan tenang karena itu menjadi wilayah Allah yang tidak dapat kita ganggu gugat. Bagian kita adalah menggarap kehidupan ini sebagai kebun anggur yang harus senantiasa diolah sehingga menghasilkan buah yang melimpah.

Santo Fransiskus dari Asisi pernah menghibur umat beriman untuk tidak takut menghadapi kematian. Bagi Fransiskus, kematian adalah saudara yang kapan saja dapat datang dan menjemput setiap pribadi. Oleh karena itu, setiap pribadi diharapkan selalu siap menyambut ‘saudara maut’ atau ‘saudara kematian’. Selain itu Santo Alfonsus Maria de Liguori juga pernah menulis sebuah buku berjudul ‘Persiapan Kematian yang Baik’ (1758). Di usia senjanya ini, Alfonsus menulis buku yang bagus setelah lebih dari tiga puluh tahun berkotbah dan memberi retret. Buku Persiapan Kematian yang Baik ini bertujuan membantu seluruh umat beriman untuk mempersiapkan diri dengan baik dalam menghadapi kematiannya.


Jangan menunggu 

Sekurang-kurangnya ada dua pesan yang disampaikannya melalui buku itu. Pertama, janganlah menunggu sampai saat terakhir. Kematian adalah sebuah kepastian. Oleh karena itu, setiap orang harus menyadari bahwa mereka akan melewatinya. Untuk itu persiapan diri dalam menyambut kematian itu perlu dan harus dimiliki setiap orang sehingga nantinya ia dapat berjumpa dengan kematian yang membahagiakan. Kematian yang membahagiakan dapat dialami oleh orang yang membenci dosa-dosanya dan mencintai Allah sendiri.

Kedua, periksalah batin kita dan bereskanlah hidup kita. Setiap orang diingatkan untuk mempersiapkan kematiannya dengan memeriksa batin dan melakukan pertobatan. Orang perlu membuang jauh-jauh dari hatinya semua afeksi yang jahat dan perasaan-perasaan marah serta dengki kepada sesama. Usaha menjauhkan diri dari perbuatan salah dan dosa. Itu sebabnya Sakramen Ekaristi dan Sakramen Rekonsiliasi menjadi bagian yang penting dalam mempersiapkan kematian.

Selain pesan orang-orang kudus itu, kita juga perlu mengingat pesan Penginjil Yohanes. Yohanes mengajak kita untuk menerima Yesus sebagai penyelamat kita, terutama di saat-saat menghadapi peristiwa kematian. Yesus berkata, “Semua orang yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepadaKu dan barang siapa datang kepadaKu tidak akan Kubuang... Setiap orang yang percaya kepada Anak Allah beroleh hidup yang kekal, dan Tuhan akan membangkitkannya pada akhir zaman” (Yohanes 6:34-51).